Merawat Kebaikan


Manusia yang dirindukan 

Menjadi "Sumber Kebaikan" yang Membekas di Hati Masyarakat

Pernah nggak berpikir, jejak seperti apa yang akan kita tinggalkan saat kita pergi dari suatu tempat?

Pagi itu kami menjemput Ustadz Sohirun dari rumah menuju tempat haul. Di dalam mobil, aku manfaatkan membangun dialog. Aku bertanya banyak hal, karena penasaran napak tilas perjuangan dakwah beliau dan Ustadzah Siti Nurjannah. 

Dari cerita perjalanan bersama Ustaz Sohirun, ada sebuah pola indah yang terus berulang yang membuatku berdecak kagum. Pasalnya, ke mana pun beliau pindah, masyarakat sekitar selalu merasa kehilangan dan menyayangkan kepindahannya. "Kok pindah sih, Pak? Nanti kalau ada acara, siapa yang ceramah?" Begitu kiranya ungkapan berat hati dari warga.

Hal ini memicu sebuah refleksi mendalam: Bagaimana bisa seseorang selalu berhasil menciptakan ekosistem kebaikan di mana pun ia berada?

Berikut adalah beberapa poin hikmah dan rahasia di balik indahnya bermasyarakat yang bisa kita teladani:

1. Konsisten Merangkul Tanpa Memandang Latar Belakang

Bukan hal yang mudah untuk bisa masuk ke berbagai kalangan. Namun, kuncinya adalah ketulusan untuk merangkul dan menggerakkan masyarakat dalam kebaikan, tanpa peduli apa latar belakang mereka dan mengesampingkan segala perbedaan yang ada.

2. Totalitas di Tengah Keterbatasan

Kalau dipikir secara logika manusia, aktif bermasyarakat itu melelahkan. Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga yang tidak sedikit, beliau tetap kokoh dan kenceng (getol) dalam memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Rasa lelah itu kalah oleh besarnya dampak kebaikan yang dirasakan masyarakat.

3. Kunci Utama: Adaptasi dan Rendah Hati

Saat ditanya apa rahasianya, jawaban beliau sangat sederhana namun menampar ego kita:

> "Kuncinya adalah adaptasi membawa diri kepada siapapun, dan jangan pernah merasa paling benar."

Beliau memilih untuk lebih banyak menyesuaikan diri, mengikuti apa yang menjadi kebutuhan atau kebiasaan masyarakat setempat terlebih dahulu, baru kemudian secara perlahan menyisipkan nilai-nilai kebaikan di dalamnya.

---

Kesimpulan & Harapan

Tujuan akhir dari semua perjuangan dan lelahnya bermasyarakat ini tidak lain adalah untuk tabungan amal jariyah di akhirat kelak.

Semoga insight hari ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu berusaha menjadi manusia yang kehadirannya menenangkan, dan kepergiannya dirindukan. Di mana pun bumi dipijak, di sanalah benih kebaikan harus ditanam.

---

Gimana, sudah pas belum alur dan bahasanya? Kalau ada bagian yang mau ditambah atau disesuaikan lagi, bilang ya!

Catatan hikmah Selma 
21 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Aqil Baligh (oleh Ustadz Adriano Rusfi)

Sudah Berlayar 2 Tahun dan Akan Selamanya Hingga ke Surga Insyaallah

Lelah Katanya